Senin, 24 Mei 2010

KIMIA

RUMUS EMPIRIS (RE) :
Rumusyang paling sederhanadicerminkan
olehjumlahatom untuksetiapjenisatom
dalamsuatusenyawa
•RUMUS MOLEKUL (RM) :
Jumlahatom setiapunsurdidalammolekul
Misalrumusempirisglukosa(CH2O)n
nisbahC : H : O = 1 : 2 : 1
BiladiketahuiMr= 180, makan = 6
rumusmolekulglukosa= C6H12O6
Contoh2.1
Padapembakaran30 g senyawaorganikdihasilkan44 g
CO2(Mr= 44) dan18 g H2O (Mr= 18). Tentukan
rumusempirissenyawaorganiktersebut
.
Penyelesaian
44 g CO2= 1 mol CO2= 1 mol C = 12 g C
18 g H2O = 1 mol H2O =2 mol H = 2 g H
BobotO = 30 g –(12 g + 2 g) = 16 g O = 1 mol O
NisbahC : H : O = 1 : 2 : 1
Rumusempiris= (CH2O)n
��RUMUS KIMIA DAN PERSENTASE KOMPOSISIETILENARumusEmpiris: (CH2)n RumusMolekul: C2H4MassaC = 12,011 gMassaH = 2,0159 gJumlah14,027 gPERSENTASE MASSAKARBON = x 100% = 85, 628% CHIDROGEN = x 100% = 14, 372% C12,00114,0272,015914,027
Contoh2.2Suatusenyawamengandung40 % C, 6,67 % H, dan53,3 % O. TentukanrumusmolekulnyajikaMr=180.PenyelesaianRumusempiris=C : H : O = 40/12 : 6,67/1 : 53,3/16= 3,33 : 6,67 : 3,33 = 1 : 2 : 1 =(CH2O)nRumusmolekul= (CH2O)n= Mr30 n = 180n = 6(CH2O)n= C6H12O6
CONTOH 2.3
Amoniamerupakanbahandasarutamadalampembuatanpupukurea. Diindustri, amoniadihasilkanmelaluiprosesHaberyang menggunakangas nitrogen danhidrogensebagaireaktan. Tuliskanpersamaankimiayang balansuntukprosesini.
Penyelesaian
_N2+ H2��_NH3
Mulailahdengankoefisien1 untukNH3, sebabspesiespaling rumit, JadikoefisienN2= 1/2, koefisienH2= 1 ½, kemudiansemuakoefisiendikalikandua
N2+ 3 H2��2 NH3

Matematika Kelas 2

Peluang Kejadian Bebas dan Tak Bebas
Permutasi, Kombinasi, Peluang Kejadian


DEFINISI

Dua kejadian A dan B dikatakan bebas jika dan hanya jika

P(AÇB) = P(A). P(B)

Contoh:

Dalam tas I terdapat 4 bola putih dan 2 bola hitam. Dalam tas II terdapat 3 bola putih dan 5 bola hitam.
Sebuah bola diambil dari masing-masing tas.
a) Keduanya berwarna putih
b) Keduanya berwama hitam

Jawab:

Misal
A = bola putih dari tas I
B = bola putih dari tas II

P(A) = 4/6
P(B) = 3/8
_ _
P(A) = 2/6 P(B) = 5/8

a. P(AÇB) = P (A) . P (B) = 4/6 . 3/8 = 1/4
_ _ _ _
b. P((A) Ç P(B)) = P(A). P(B) = 2/6 . 5/8 = 5/24


DEFINISI

Jika A dan B dua kejadian yang saling asing maka berlaku :

P (AUB) = P(A) + P(B)

Contoh:

Pada pelemparan sebuah dada merah (m) dan sebuah dadu putih (p).

Maka: S={(1,1), (1,2), .....,(1,6), (2,1),(2,2),.....(6,6)}
n(S) - (6)2 = 36

A : Kejadian muncul m + p = 6 ® {(1,5) (2,4) (3,3) (4,2) (5,1)}
n(A) = 5

B : Kejadian muncul m + p = 10 ® {(4,6), (5,5), (6,4)}
n(B) = 3

P(A) = 5/36 P(B) = 3/36

AUB :Kejadian muncul m + p = 6 atau m + p = 10 ®
{ (1,5) (2,4) (3,3) (4,2) (4,6) (5,1) (5,5) (6,4) }
n(AUB) = 8

P(AUB) = 8/36 = P(A) + P(B)

A dan B kejadian yang saling asing.


DEFINISI

Jika A dan B dua kejadian yang tidak saling asing maka berlaku

P(AUB) = P(A) + P(B) - P(AÇB)

Contoh:

Dalam pelemparan sebuah dada S : { 1, 2, 3, 4, 5, 6}

A : Kejadian muncul sisi dengan banyaknya mata dadu bilangan ganjil = { 1, 3, 5 } ® n(A) = 3/6
B : Kejadian muncul sisi dengan banyaknya mata dadu bilangan prima = {2, 3, 5} ® n(B) = 3/6

P(AUB) = 4/6 = P(A) + P(B)

A dan B kejadian yang tidak saling asing.

Selasa, 23 Februari 2010